BUNGA ASMARANDANA
sudah berjuta Abjad kutuang
dari penaku yang bergoyang
beratus tulisan
disyair kenangan
apalah arti
bila tak juga membuka hati
apalah daya
bila taburan Cinta belum menggoda
semalam ku mencoba
membaca dinding hatimu
semalam ku memandang
bingkai senyum ramahmu
semalam kau rangkaikan kata
atas rindu mu yang masih mengambang
fajar kini
tinta masih sedikit bersisa
pun rasa masih menggoda ingat
kembang canda tawa
kau setengah menggoda
dan aku merasa
ada yang lain disini didalam dada kiri
sesak mulai mengganti
ruang rindu terisi bunga bunga Asamaranda
yang tanpa sengaja engkau semai
dan Aku jatuh Cinta lagi.....
Jejak Pena Bisu
060113
Hkng
sudah berjuta Abjad kutuang
dari penaku yang bergoyang
beratus tulisan
disyair kenangan
apalah arti
bila tak juga membuka hati
apalah daya
bila taburan Cinta belum menggoda
semalam ku mencoba
membaca dinding hatimu
semalam ku memandang
bingkai senyum ramahmu
semalam kau rangkaikan kata
atas rindu mu yang masih mengambang
fajar kini
tinta masih sedikit bersisa
pun rasa masih menggoda ingat
kembang canda tawa
kau setengah menggoda
dan aku merasa
ada yang lain disini didalam dada kiri
sesak mulai mengganti
ruang rindu terisi bunga bunga Asamaranda
yang tanpa sengaja engkau semai
dan Aku jatuh Cinta lagi.....
Jejak Pena Bisu
060113
Hkng
JUNTAI CINTA
bila baju yang usang itu sudah biasa
bila kaleng yang berkarat itu sudah biasa
adakah yang lebih indah dari sekedar kelekar manis dan senyum mengulum
seperti api yang setia sendan abu
berapapun panas api membakar kayu dalam tunggu
setianya tak pernah pergi
diam dalam bicara namun bukan bisu
buta dalam melihat namun mata hati melihat
sedianya cinta harus memberi dengan air mata dan tangisan duka
inginku titipkan pada diri ini sebuah harapan tuk selalu bersama
berjalan bersampingan agar bisa kulihat saat inginmu meminta setiap saat
saat mulut engan bersuara
namun sorot matamu mengartikan cinta memang ada dalam diri yang letih
dalam berpena menata pena aksara di padamaya
saat juntai cintaku datang kau tanya
seluruh hidupku hanya untukmu
tak jeda dalam waktu aku setia menunggu
seindah alunan rindu dalam hari hari yang pernah kita lalui
bila baju yang usang itu sudah biasa
bila kaleng yang berkarat itu sudah biasa
adakah yang lebih indah dari sekedar kelekar manis dan senyum mengulum
seperti api yang setia sendan abu
berapapun panas api membakar kayu dalam tunggu
setianya tak pernah pergi
diam dalam bicara namun bukan bisu
buta dalam melihat namun mata hati melihat
sedianya cinta harus memberi dengan air mata dan tangisan duka
inginku titipkan pada diri ini sebuah harapan tuk selalu bersama
berjalan bersampingan agar bisa kulihat saat inginmu meminta setiap saat
saat mulut engan bersuara
namun sorot matamu mengartikan cinta memang ada dalam diri yang letih
dalam berpena menata pena aksara di padamaya
saat juntai cintaku datang kau tanya
seluruh hidupku hanya untukmu
tak jeda dalam waktu aku setia menunggu
seindah alunan rindu dalam hari hari yang pernah kita lalui

Tidak ada komentar:
Posting Komentar