DIMANA ADIL KU
padamu Ayah, aku bertanya
kemana adilnya Penciptaan Dunia
hingga lelapku hanya berselimut gelapnya cakrawala
dan siang payungku terik sinar sang Mentari hingga raga satu satu menjadi cacian orang orang disana
dekilku membuat mereka menghina atas joroknya badan
padamu ibu, aku bertanya
adilkah jawaban Tuhan atas adaku sekarang
yang menahan keroncongan perut
hingga berat badan ini susuT tanpa susu yang ada
haus ku terbasuh hujan semata
dan sakit selalu beserta, tapi kemana obat mencarinya
dimana alas kasurku....Bunda....
bilik tetatangga rumah ku disana
ruas jalan tempatku bermain sehari hari
dan tangan ini tak lelah mengatungkan pinta iba
hanya inikah yang disebut "adil"nya hidup
lalu ku rajut bersama adik dijalan gelap akan masa yang akan datang
sampah, sering aku di dengungkan
Ayah.... Bunda....
kemana masa kanak kanakku
bermain kelereng, bermain bola, lompat tali seperti mereka
bermanja dibangku-bangku dengan sergam indah
dan pulang dikenyangkan dengan hidangan
hingga harum kasturi selepas mandi
kapan, aku dapati ?
Ayah...Bunda...
adamu mungkin sudah dialam sana
papa lara tertinggal hanya penggal hidup menanti jatah menyusul
dan rasanya adil ada serta dari mereka yang mengulurkan tangan
direcehan dan lembar kecil uang yang ku terima
dan atas pengenyang perut untukku bertahan hidup
aku memandang hari esok........ gelap !!!!
aku menanti pagi yang tak beda
hanya sepenggal kata "dimana adilku ditaruh oleh-Nya"
sementara aku hanya bisa menapak dengan bilur bilur raga
mencari tetesan kasih yang tersisa
semoga dibukakan seorang Pencerah adaku nanti...
aku mencari keadilan Tuhanku di kehidupan ini
Jejak Pena Bisu
29/01/2013
Syair Jiwa Mati
padamu Ayah, aku bertanya
kemana adilnya Penciptaan Dunia
hingga lelapku hanya berselimut gelapnya cakrawala
dan siang payungku terik sinar sang Mentari hingga raga satu satu menjadi cacian orang orang disana
dekilku membuat mereka menghina atas joroknya badan
padamu ibu, aku bertanya
adilkah jawaban Tuhan atas adaku sekarang
yang menahan keroncongan perut
hingga berat badan ini susuT tanpa susu yang ada
haus ku terbasuh hujan semata
dan sakit selalu beserta, tapi kemana obat mencarinya
dimana alas kasurku....Bunda....
bilik tetatangga rumah ku disana
ruas jalan tempatku bermain sehari hari
dan tangan ini tak lelah mengatungkan pinta iba
hanya inikah yang disebut "adil"nya hidup
lalu ku rajut bersama adik dijalan gelap akan masa yang akan datang
sampah, sering aku di dengungkan
Ayah.... Bunda....
kemana masa kanak kanakku
bermain kelereng, bermain bola, lompat tali seperti mereka
bermanja dibangku-bangku dengan sergam indah
dan pulang dikenyangkan dengan hidangan
hingga harum kasturi selepas mandi
kapan, aku dapati ?
Ayah...Bunda...
adamu mungkin sudah dialam sana
papa lara tertinggal hanya penggal hidup menanti jatah menyusul
dan rasanya adil ada serta dari mereka yang mengulurkan tangan
direcehan dan lembar kecil uang yang ku terima
dan atas pengenyang perut untukku bertahan hidup
aku memandang hari esok........ gelap !!!!
aku menanti pagi yang tak beda
hanya sepenggal kata "dimana adilku ditaruh oleh-Nya"
sementara aku hanya bisa menapak dengan bilur bilur raga
mencari tetesan kasih yang tersisa
semoga dibukakan seorang Pencerah adaku nanti...
aku mencari keadilan Tuhanku di kehidupan ini
Jejak Pena Bisu
29/01/2013
Syair Jiwa Mati
Tidak ada komentar:
Posting Komentar